touring

touring
bersama teman

Sabtu, 24 Juli 2010

jepara






kita bersama teman-teman sedang ada di jepara menghadiri walimah mujahid billah. juga kita jalan jalan ke danau bersama pengantin barunye,hehehehe

kapan-kapan kita juga bisa kesana

Cerita Rakyat Si Pahit Lidah



Cerita Rakyat Si Pahit Lidah
Si pahit lidah adalah seorang pemberani yang sering membela rakyat kecil. Nama Si Pahit Lidah sangat melegenda di pulau Sumatera, khususnya di Sumatera bagian Selatan, Termasuk Merangin. Lalu siapakah Si Pahit Lidah itu sebenarnya ?
Jati Diri Si Pahit Lidah.
Pada zaman dahulu kala, Tersebutlah kisah seorang pangeran dari daerah Sumidang bernama Serunting. Anak keturunan raksasa bernama Putri Tenggang ini, dikhabarkan berseteru dengan iparnya yang bernama Aria Tebing. Sebab permusuhan ini adalah rasa iri-hati Serunting terhadap Aria Tebing.
Dikisahkan, mereka memiliki ladang padi bersebelahan yang dipisahkan oleh pepohonan. Dibawah pepohonan itu tumbuhlah cendawan. Cendawan yang menghadap kearah ladang Aria tebing tumbuh menjadi logam emas. Sedangkan jamur yang menghadap ladang Serunting tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna.
Perseteruan itu, pada suatu hari telah berubah menjadi perkelahian. Menyadari bahwa Serunting lebih sakti, Arya Tebing menghentikan perkelahian tersebut. Ia berusaha mencari jalan lain untuk mengalahkan lawannya. Ia membujuk kakaknya (isteri dari Serunting) untuk memberitahukannya rahasia kesaktian Serunting.
Menurut kakaknya Aria Tebing, kesaktian dari Serunting berada pada tumbuhan ilalang yang bergetar (meskipun tidak ditiup angin). Bermodalkan informasi itu, Aria Tebing kembali menantang Serunting untuk berkelahi.
Dengan sengaja ia menancapkan tombaknya pada ilalang yang bergetar itu. Serunting terjatuh, dan terluka parah. Merasa dikhianati isterinya, ia pergi mengembara. Serunting pergi bertapa ke Gunung Siguntang. Oleh Hyang Mahameru, ia dijanjikan kekuatan gaib. Syaratnya adalah ia harus bertapa di bawah pohon bambu hingga seluruh tubuhnya ditutupi oleh daun bambu. Setelah hampir dua tahun bersemedi, daun-daun itu sudah menutupi seluruh tubuhnya.
Seperti yang dijanjikan, ia akhirnya menerima kekuatan gaib. Kesaktian itu adalah bahwa kalimat atau perkataan apapun yang keluar dari mulutnya akan berubah menjadi kutukan. Karena itu ia diberi julukan si Pahit Lidah.
Ia berniat untuk kembali ke asalnya, daerah Sumidang. Dalam perjalanan pulang tersebut ia menguji kesaktiannya. Ditepian Danau Ranau, dijumpainya terhampar pohon-pohon tebu yang sudah menguning. Si Pahit Lidah pun berkata, “jadilah batu.” Maka benarlah, tanaman itu berubah menjadi batu. Seterusnya, ia pun mengutuk setiap orang yang dijumpainya di tepian Sungai Jambi untuk menjadi batu.
Namun, ia pun punya maksud baik. Dikhabarkan, ia mengubah Bukit Serut yang gundul menjadi hutan kayu. Di Karang Agung, dikisahkan ia memenuhi keinginan pasangan tua yang sudah ompong untuk mempunyai anak bayi.

ADAB & TATA CARA MENCARI ILMU

بسم الله الرحمن الرحيم

ADAB & TATA CARA
MENCARI ILMU
Upaya Pelurusan Fikrah Keluarga Menuju Pemahaman Salaf Ash-Shalih
Pertemuan Keluarga ke-X

A. MUQODDIMAH

Ibnu Taimiyah : ilmu yang baik adalah ilmu yang mengarah kepada pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena keduanya merupakan warisan Nabi. Siapa mau mengambil keduanya, maka akan beruntung.
Ibnu Abbas : benih-benih pengetahuan adalah mempelajari ilmu.
Ibnul Mubarok : pertama kali ilmu adalah niyat, kemudian mendengarkan, kemudian memahami, kemudian menghafal, kemudian mengamalkan, kemudian menyampaikan kepada orang lain.
Umar Maula Ghufroh : Orang yang pandai itu masih bisa dikatakan pandai selama ia tidak mendahulukan akal/hawa nafsu / ro’yu-nya kemudian ia mau mendatangi orang yang lebih pintar lagi darinya untuk menimba ilmunya.
Abu Kholid Al-Ahmar : akan datang suatu masa, mushaf Al-Qur’an dan tafsirnya tidak dibaca dan dikaji lagi, manusia saat itu hanya mengikuti pembicaraan dan pendapat seseorang. Hindarilah sikap seperti itu, jika tidak, hal itu hanya akan menampar wajah, memperpanjang komentar yang tidak jelas ujung pangkalnya dan membuat rusaknya hati.
Rusaknya pemikiran, mental & tindakan manusia hari ini merebak di berbagai kolong bumi. Keluarga yang nampaknya muslim telah teracuni pemikiran sekuler dan kafir, sehingga mereka jauh dari pemahaman Islam yang benar. Secara lahiriyah, gelar-gelar akademis sebagai Guru, Alim-ulama, Doktor, Sarjana, Profesor dan status sosial di tengah masyarakat sebagai ketua RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Menteri, Presiden bahkan sampai Direktur perusahaan tertentu telah mereka raih, akan tetapi hal itu tidak menjadikan mereka merasa takut kepada Allah dan semakin benar sikap ibadah kepada-Nya, bahkan bersikap sebaliknya.
Hal ini barangkali disebabkan ketika mencari ilmu, ada beberapa hal yang tidak benar, yaitu belum mengerti adab-adab mencari ilmu dan bagaimana cara meraih/mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Agar diri dan keluarga muslim tidak terjebak oleh pengaruh orang-orang kafir dan sekuler, kita ikuti kajian berikut ini.

II. ADAB-ADAB MENCARI ILMU

1. Ikhlash Lillah
Hendaklah seorang pencari ilmu selalu mengoreksi dan memperbaiki niyatnya, beramal untuk-Nya, menghidupkan syariat-Nya, menerangi hati dan batinya dan selalu taqarub kepada Allah.
2. Menjaga diri secara lahir dan batin dari hal-hal yang bertentangan dengan hukum Allah
Thalib Ilmy, harus selalu menampakkan secara nyata sunnah Nabi dan meninggalkan amalan-amalan bid’ah dalam segala keadaan.
Abdul Malik Al-Maimuni : aku belum pernah melihat manusia sehebat Imam Ahmad bin Hambal, pakaiannya selalu putih-bersih, kumisnya bersih, jenggotnya rapi dan janjinya selalu tepat. Beliau diam dan geraknya selalu menghidupkan sunnah.
Khotib Al-Baghdady : tholib ilmy harus meninggalkan sendagurau, tertawa terbahak-bahak, boleh saja tertawa namun jangan sampai keluar dari etika ilmu. Sebab tertawa akan mematikan hati dan mengurangi wibawa seseorang.
Imam Malik : hendaklah tholib ilmy selalu bersikap lunak, tenang dan khusyuk dan selalu mengikuti akhlaq orang-orang terdahulu.
Menjaga batin disini maksudnya : menghindarkan diri dari akhlaq yang tercela dan sifat-sifat tidak terpuji. Karena ilmu itu merupakan ibadahnya hati, hubungan yang tersembunyi tetapi membawa kedekatan diri kepada Allah SWT.
Abu Hamid : hati ibarat rumah, ia merupakan tempat turunnya Malaikat, tempat bersandarnya keputusan, maka sifat tercela seperti marah, syahwat, iri-dengki, sombong, berbangga dan sifat keji lainnya jika selalu menggema di dalam hati, itu ibarat binatang anjing yang menggongong, kalau sudah begitu bagaimana mungkin Malaikat akan masuk ke dalam rumah-nya ?

3. Fikiran & hatinya konsentrasi kepada ilmu, Singkirkan rintangan dan kebiasaan buruk

Kebiasaan bermalas-malas, bersantai ber-mental cengeng adalah rintangan seorang pencari ilmu. Ini adalah betul-betul merupakan halangan.
Ada tiga hal yang akan merintangi perjalanan manusia kepada Allah : 1. Syirik 2. Bid’ah 3. Maksiat. Syirik akan tumbang dengan Tauhid, Bid’ah akan tumbang dengan Sunnah dan maksiat akan tumbang dengan taubat.
Syu'bah berkata : kamu sangat sibuk dengan bisnis di pasarmu, pantas kamu sukses hebat duniamu, sedangkan saya belajar hadits, maka saya menjadi papa.
Sofyan bin Uyainah : tinta-tinta ilmu dan kajian hadits tidak akan memasuki rumah, kecuali aktivitas itu akan menjadikan papa keluarga dan anak-anaknya.
Maksudnya, meskipun kesibukan taklim keluar rumah, jangan sampai keluarganya berantakan nasib ekonomi dan jaminan keamanannya.
Apabila seorang tholib datang kepada Sofyan Ats-Tsauri maka ia ditanya : Apa kamu sudah punya maisyah/penghasilan ekonomi, bila jawabannya belum, ia disuruh pulang, bila jawabnya sudah dan cukup, maka boleh ikut belajar bersama Sofyan Ats-Tsauri.

4. Selalu berhati-hati dalam masalah makan

Rosulullah bersabda : Sesungguhnya syetan betul-betul berjalan mengalir lewat aliran darah manusia, maka persempitlah aliran darah itu dengan cara berlapar-lapar, agar syetan tidak bisa masuk. Hadits Riwayat Ahmad.
Imam Syafi’i : saya tidak pernah merasa kenyang selama 16 tahun, karena banyak makan ( berkenyang-kenyang ) akan mudah mengantuk, menumpulkan akal, melemahkan perasaan dan malas badan. Maka banyak makan itu dibenci oleh syari’at.
Banyak makan dan minum hanya akan menyibukkan diri untuk masuk-keluar WC, orang yang berakal pasti akan menjaga betul dalam masalah ini.
Ibnu Qudamah : syahwat perut adalah syahwat yang paling berbahaya. Karena syahwat perut inilah Nabi Adam terusir dari surga, syahwat perut akan menyeret kepada syahwat kemaluan dan gandrung kepada harta. Rata-rata malapetaka jiwa itu berangkat dari kenyangnya perut.
Seorang pencari ilmu ia harus ektra-hati-hati dalam segala keadaan, selalu meneliti ke-halalan makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggalnya, juga segala kebutuhan keluarganya. Hal itu agar hati diri dan keluarganya mendapatkan cahaya dan mudah menerima ilmu.

5. Sedikit tidur dan bicara

Al-Hasan bin Ziyad rajin mengkaji ilmu-ilmu keislaman, dia berumur 80 tahun, selama 40 tahun-nya ia jarang tidur.
Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani : ia tidak tidur malam, buku-buku bertebaran di sampingnya, di samping tempat belajarnya ia sediakan seciduk air untuk menghilangkan kantuknya itu. Ia berkata : ngantuk itu adalah panas, maka harus diguyur dengan air dingin agar tidak ngantuk.
Ibnu Abdil Barr : fitnah seorang alim apabila dia suka banyak bicara. Orang mendengar itu selamat dan akan bertambah ilmu dari orang yang berbicara, sedangkan pembicaraan itu kadang ada hiasan, tambahan dan pengurangan. Orang yang banyak bicara akan menunggu fitnah, orang yang diam akan menuai rahmat.

6. Mengurangi pergaulan jika perlu dan selektif memilih kawan

Pergaulan jika mampu adalah pergaulan yang membawa kebaikan dan takwa, hal itu sangat dianjurkan, akan tetapi jika membawa maksiat dan dosa itulah yang dilarang. Bahkan pergaulan antar kaum muslimin merupakan unsur ibadah, seperti sholat berjama’ah lima waktu, sholat dua hari raya, sholat gerhana, pelaksanaan ibadah haji dan jihad fie sabilillah.
Celakanya pergaulan, jika hanya akan membawa sia-sianya umur tanpa guna, rusaknya aqidah, hancurnya harta benda dan jatuhnya harga diri.
Pilihlah kawan yang shalih, punya pemahaman dien, taqwa, waro, cerdas , suka berbuat baik, sopan diplomasinya, suka diskusi yang bermanfaat, jika kamu lupa ia mengingatkanmu, jika kamu butuhkan selalu siap membantumu dan jika sedang teruji masalah selalu sabar.
Carilah kawan yang punya lima sifat : berakal, akhlaqnya baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah dan tidak rakus pada harta. Akal adalah kunci harta, berkawan dengan orang tidak berakal akan merugikanmu, karena dia akan memeras kamu. Orang fasiq, ia tidak takut kepada Allah dan tidak bisa dipercaya omongan dan tindakannya.

7. Memilih ilmu yang dibahas dan siapa pengajarnya / Syeikhnya

Seorang pencari ilmu harus berfikir hal yang terpenting sebagai pijakan untuk melangkah. Ilmu mengenal Allah adalah pangkal dari segala ilmu, dari segi Uluhiyah, Rububiyah, Asma' dan Sifat-Nya. Ia merupakan pijakan seorang hamba untuk meraih kebahagiaan dan kebaikan dunia dan akhirat.
Kongkritnya, pencari ilmu harus meletakkan selera/kemauan awalnya adalah memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena keduanya merupakan dasar ilmu yang haq. Bodoh terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan klimaknya- kebodohan yang tidak akan tertolong. Sungguh, ini merupakan nasehat yang sangat penting bagi pencari ilmu.
Imam Syafi’i berkata : ilmu selain Al-Qur’an hanyalah sendagurau, kecuali Hadits Nabi, kalau bukan Hadits Nabi yaitu kegiatan-kegiatan yang menjurus kepada pemahaman ajaran Islam. Ilmu yang sebenarnya adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, selain dari itu adalah bisikan-bisikan syetan.
Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah : Ilmu adalah Al-Qur’an, Sunnah Nabi dan perkataan Sahabat.
Maka, tambang ilmu itu sebenarnya adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Ibnu Jama’ah : seorang pencari ilmu harus berfikir ulang, ber-istikhoroh meminta kepada Allah kepada siapa ia akan menimba ilmu, baguskah perangainya dan lain-lain.
Ibrahim berkata : orang-orang salaf kalau mau belajar kepada guru, ia perhatikan betul guru tersebut cara berpakaian, tutur bicaranya dan sholat lima waktunya, kalau sudah jelas, ia baru mau belajar kepadanya.
Imam Ats-Tsauri : siapa yang mendengarkan suara orang-orang ahli bid’ah, sikapnya itu akan sia-sia di hadapan Allah SWT, siapa yang ber-jabat tangan denganya, akan mengurangi nilai Islam sedikit demi sedikit.
Ibnu Sirin : Sesungguhnya ilmu ini adalah DIEN, maka perhatikan betul dari siapa kamu mendapatkan ilmu itu.
Seseorang mempelajari fisika, kimia, biologi, kedokteran, geografi, kemiliteran, ilmu-ilmu sosial dan lainnya, bila tidak didasari dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah secara benar maka akan membahayakan dirinya, keluarganya, masyarakat dan negaranya. Lebih-lebih guru/dosen mereka yang tidak jelas amaliyah dan fikrahnya. Jangan-jangan guru/dosenya adalah musuh Islam, atau kafir tulen yang selalu melecehkan Islam.

8. Menjaga adab terhadap Guru / Syeikhnya

Ibnu Thowus mendengar dari bapaknya : menghormati guru adalah sunnah.
Maimun bin Mihran : janganlah kamu berdebat dengan orang yang lebih pintar darimu, itu tidak akan membawa manfaat bagimu.
Az-Zuhri : Salmah sering mendebat Ibnu Abbas, akhirnya Salmah tidak banyak mendapatkan ilmu darinya, padahal Ibnu Abbas ilmunya sangat banyak.
Ibnu Jama’ah : seorang murid jangan sampai masuk ke majlis syaikh kecuali harus ijin, baik syaikh dalam keadaan sendirian ataupun ada pendampingya. Ketika memasuki majlis taklim, hendaklah bersih badan, pakaian dan kukunya, jangan sampai bau badanya menyengat tidak harum. Ingat, masjlis taklim adalah majlis dzikir dan pertemuan yang hal itu merupakan ibadah.
Abu Bakar bin Al-Anbari dalam majlis ilmunya, ketika murid mendengarkan ilmu, suasananya sangat tenang, seolah-olah kepala mereka jika dihinggapi burung maka burung itu tidak akan terbang, saking tenangnya suasana belajar.
Abdurrohman bin Umar : pernah ada seorang murid bermajlis di tempatnya Abdurrohman bin Mahdi, dia ter-tawa-tawa. Maka murid itu dimarahi dengan kata-kata tegas, di sini kamu mencari ilmu sambil tertawa-tawa, sebagai peringatan, kamu saya skorsing untuk tidak boleh mengikuti pelajaran selama satu bulan.

9. Menjaga adab terhadap kitab

Kitab adalah alat ilmu. Orang-orang salaf sangat serius menjaga kitab-kitab mereka. Murid selalu berusaha menyiapkan buku-buku yang ia butuhkan, dengan cara membeli ataupun meminjam, sekali lagi karena buku itu sangat penting. Boleh saja meminjam buku kepada orang lain, jika bisa merawat dengan baik, karena hal itu dalam rangka menghormati ilmu yang ada di dalamnya.
Peminjam buku tidak boleh se-enaknya mencoret buku tersebut, atau merubah bentuk buku itu kecuali harus ijin kepada pemiliknya.
Waki', guru Imam Syafi’i berkata : Berkahnya ilmu hadits adalah merawat buku.
Sofyan Ats-Tsauri : siapa bakhil terhadap ilmu yang ia miliki, maka akan terjerat tiga perkara : lupa dan tidak hafal lagi ilmunya, ilmunya mati dan tidak bermanfaat atau hilang buku-bukunya.
Imam Az-Zuhri : Hai Yunus, kamu jangan berlebih-lebihan dalam masalah buku, maksudnya buku itu disimpan saja, tidak pernah dibaca dan dipinjam oleh kawan-kawannya.
Robi’ bin Sulaiman : Al-Buthy mengingatkan saya : jagalah buku-bukumu, jika bukumu hilang kamu sulit mendapatkan gantinya.
Sofyan : Jangan kau pinjamkan buku-bukumu kepada orang lain.
Jangan sampai kamu letakkan bukumu secara sembarangan, letakkan di rak yang rapi agar tidak rusak.

10. Adab di ruang belajar

Seorang murid ketika memasuki majlis hendaklah punya semangat yang membara, hatinya konsentrasi pada pelajaran, tidak terganggu oleh kesibukan luar majlis, ketika memasuki ruangan hendaklah menebarkan salam dengan suara yang terang.
Imam Ahmad bin Hambal : di kegelapan pagi hari ba’da shubuh, tiap kali aku mau berangkat untuk mengkaji Al-Hadits, ibuku selalu menyiapkan pakaian yang akan aku pakai. Aku selalu bermajlis dengan Abu Bakar bin Ayyas dan lain-lain.
Sebelum pelajaran, hendaklah dimulai dengan Bismillahirrohamanirrohim, walhadulillah, wash-shalatuwassalam ala Rasulihi wa alihi wa ash-habihilkirom, kemudian mendoakan para Ulama, syekh-syekh, kedua orang tuanya dan segenap kaum muslimin.
Kalau ditanya oleh gurunya, sudahkah faham pelajaran ini, maka jangan bilang sudah, kecuali memang betul-betul sudah faham. Jangan malu berkata - saya belum mengerti - kalau memang belum mengerti.
Imam Mujahid : ilmu tidak bisa diraih dengan sikap malu-malu dan takabbur.

III. CARA MERAIH ILMU YANG BERMANFAAT

1. Hendaklah meminta dengan sungguh-sungguh kepada Allah ilmu yang bermanfaat.
Rasulullah pernah berdoa : Ya Allah berilah aku manfaat terhadap ilmu yang telah Engkau berikan kepadaku, ajarkanlah ilmu yang bermanfaat bagiku dan tambahlah aku ilmu.
2. Bersunguh-sungguh di dalam mencarinya, rasa rindu dan cinta yang jujur terhadap ilmu tersebut yang semua itu dilandasi dengan ridha Allah SWT.
Lihat surat Al-Baqoroh : 282, Al-Anfal : 29
Ahli hikmah : ilmu itu bisa diraih dengan semangat yang menyertainya, rasa cinta-senang mendengarkan akan ilmu itu dan selalu mengorbankan waktu untuk mendapatkannya.
Imam Syafi’i : kamu tidak akan bisa meraih ilmu kecuali dengan enam hal : 1. Kecerdasan 2. Tamak terhadap ilmu 3. Sungguh-sungguh 4. Menghubungi guru 5. Mengeluarkan dana 6. Terus-menerus tidak putus asa.
3. Menjauhkan diri dari kemaksiatan dengan jalan taqwa, karena hal itu merupakan faktor penting akan tercapainya ilmu.
Imam Malik berkata kepada Imam Syafii : Allah Ta’ala telah memberikan ilmu ke dalam jiwamu, maka janganlah kau hapus ilmu tersebut dengan kemaksiatan.
Ibnu Mas’ud : saya perhatikan orang yang sering lupa terhadap ilmunya, itu disebabkan karena ia melakukan kemaksiatan.
4. Menghindari sikap takabbur dan sikap malu mencari ilmu.
Aisyah : sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, mereka tidak malu di dalam memahami ajaran Islam.
Imam Mujahid : Orang yang takabbur dan bermalu-malu mencari ilmu, tidak mungkin dia bisa belajar dengan baik.
5. Ikhlas di dalam mencari ilmu, ini adalah inti dan faktor terbesar dalam urusan mencari ilmu.
Siapa belajar suatu ilmu hanya sekedar mengejar keduniaan, ia tidak akan mencium baunya surga kelak di hari kiyamat.
6. Mengamalkan ilmu yang ia dapatkan.

Ibnu Taimiyah : ilmu yang terpuji dan bermanfaat adalah ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena keduanya merupakan warisan/peninggalan Nabi. Para Nabi tidak mewariskan harta berupa emas dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu, siapa yang mengambil ilmu itu maka akan beruntung.

IV. RENUNGAN UNTUK KELUARGA MUSLIM

1. Pernahkah kita tersinggung ikut memikirkan nasib ummat yang tidak jelas arah dan tujuan pendidikan mereka dari TK sampai Perguruan Tinggi di negeri kita ini ?
2. Pernahkah kita mengkaji dengan jujur adab-adab mencari ilmu dan bagaimana cara-cara meraihnya ? sudahkah kita ingatkan hal ini kepada anak-anak, orang tua, sanak-saudara atau ikhwan-ikhwan kita ?
3. Pernahkah kita berdo’a kepada Allah meminta ilmu yang bermanfaat secara lisan, yang kemudian kita benarkan dengan hati dan diwujudkan dengan amal perbuatan ? Ingat, ucapan lisan, hati dan tindakan perbuatan adalah bukti orang beriman.
4. Bisakah kita mendapatkan llmu dengan cara sendirian tanpa guru/syekh ?
Imam Ibnu Hajar Al-Atsqolany, gurunya 600 orang, guru/syekh yang telah memberikan ijazah secara resmi sebanyak 450 orang. Beliau telah menulis 150 buku.
5. Pernahkah kita bercerita tentang sejarah ulama dan mengkaji ilmu-ilmu mereka ? Seperti : Imam Ahmad bin Hambal, Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Maliki, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Asy-Syatibi, Adz-Dzahaby, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah, Imam Ath-Thobari, Imam Al-Qurthuby dan lain-lain.
Imam Abu Hanifah : bercerita tantang perjalanan Ulama dan bermajlis dengan mereka, itu lebih aku sukai daripada memahami ilmu dengan cara sendirian, hal itu merupakan adab dan sikap orang-orang salaf.

V. DAFTAR PUSTAKA

1. Miftahul Jannah, Imam Asy-Syuyuthy
2. Kitabul Ilmy, Zuhair bin Harb Abu Khaitsumah An-Nasaiy
3. Shahih Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr
4. Adab Thalibil Ilmi, Abu Abdullah Muhammad bin Said bin Ruslan
5. Al-Hikmah fiddakwah Ilallahi Ta’ala, Said bin Ali bin Wahf Al-Qohthony
6. Tahdzibut Tahdzib, Imam Ibnu Hajar Al-Atsqolany
7. Madza Ya’niy Intimaiy Lil-Islam, Fathy Yakan ( edisi Indonesia )

Disampaikan dalam acara pertemuan keluarga
di rumah Abu Habib, Sruwen - Semarang
Sabtu, 30 Maret 2002

- Wallahu A’lam bish Shawab -

Jumat, 23 Juli 2010

Beberapa tanda kiamat








I
man kepada hari akhir merupakan salah satu rukun iman, orang islam wajib mempercayai apa yang di beritakan Al Qur'an dan As Sunnah tentang hari akhir. Banyak nash – nash atau dalil-dalil yang menerangkan pengaruh dan urgensi iman kepada hari akhir.
Di antaranya firman Alloh :
ليس البر أن تولوا وجوهكم قبل المشرق والمغرب ولكن البر من آمن بالله واليوم الآخر والملائكة والكتاب والنبيين ...... ( البقرة : 177 )
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat, kitab-kitab, para rasul ….. (Al Baqoroh : 1-5)
Alloh telah memberitahukan kepada hamba-Nya tanda-tanda yang mendahului akan kedatangannya (alamatus sa'ah), baik yang sudah terjadi ataupun yang akan terjadi. Tanda-tanda yang sudah terjadi berarti yang telah di rasakan oleh ummat manusia, sehingga bisa menambah keimanan dan keyakinan orang-orang beriman, dan akan mendorongnya untuk senantiasa beramal sholeh dan menjauhi hal-hal yang munkar.
Permasalahan tanda-tanda hari kiamat sengaja di angkat, untuk mengingatkan kita, karena kebanyakan orang telah melupakannya. Dengan mengetahui adanya tanda-tanda hari Kiamat yang telah terjadi atau yang sedang terjabdi di kalangan kita, semoga menjadi peringatan untuk selalu mengikuti petunjuk syare’at Allah. Berikut ini sedikit pemaparan tentang tanda (alamatus sa’ah) yang telah terjadi dan sedang terjadi di kalangan kita :

Pertama : Di utusnya Rasulullah kepada seluruh alam.
Rasulullah telah mengabarkan bahwa di utusnya Beliau sebagai rasul terakhir termasuk salah satu tanda-tanda Kiamat, artinya hari Kiamat sudah dekat, karena beliau merupakan penutup para Nabi. Tidak ada nabi sesudah Beliau.
Dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Bukhori di katakan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ يَعْنِي إِصْبَعَيْنِ (رواه البخارى)

Dari Abu Hurairah dari Nabi bahwa beliau bersabda : “ Jarak antara pengangkatanku sebagai Rasul dan hari Kiamat seperti (jarak) dua ini (yakni dua jarinya) (HR. Bukhori)
Dalam riwayat lain : "Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya."

Al Hafidz Ibnu Rajab menjelaskan, bahwa hadits diatas ditafsiri dengan kedekatan masa nabi dengan hari Kiamat, seperti dekatnya jarak antara jari telunjuk dan jari tengah. Yakni setelah diutusnya Rasulullah, maka akan di tutup dengan hari Kiamat tanpa ada nabi lagi setelahnya.

Kedua : Terbelahnya bulan.
Hal ini sebagaimana yang telah di firmankan Allah Ta’ala dalam surat Al Qomar : 1-2
  •          
Telah dekat (datangnya) saat Kiamat itu, dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata : “(ini adalah) sihir yang terus menerus.” (Al Qomar : 1-2).
Dalam menafsirkan ayat di atas, Al Hafidz ibnu Katsir menyatakan bahwa peristiwa terbelahnya bulan telah terjadi pada zaman Rasulullah sebagaimana di sebutkan dalam hadits – hadits yang mutawatir dengan sanad yang shahih. Para ulama telah sepakat bahwa bahwa peristiwa tersebut merupakan salah satu dari mukjizat rasulullah.
Dalam sebuah riwayat, Abdullah bin Mas’ud bercerita :
Ketika kami bersama rasulullah di Mina, tiba – tiba bulan terbelah menjadi dua bagian, satu bagian berada di belakang atas gunung (Hira’) dan separuhnya (berada) sedikit di bawahnya, maka Rasulullah bersabda kepada kami : “saksikanlah !.” (HR. Bukhori Muslim).

Ketiga : Keluarnya para dajjal pendusta yang mengaku sebagai nabi
Para dajjal pendusta ini akan bermunculan sepeninggalan rasulullah wafat, dan masing – masing dari mereka akan mendakwakan dirinya menjadi seorang utusan.
Rasulullah pernah bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ


Artinya :
Dari Abu Hurairah dari Nabi beliau bersabda : tidak akan terjadi hari kiamat sehingga bermunculan para dajjal pendusta yang jumlahnya sekitar 30, kesemuanya akan mendakwakan dirinya dengan rasulullah.” (HR. Muslim)

Dajjal-dajjal pendusta ini bermunculan hingga Al Masih Ad Dajjal yang menjadi fitnah terbesar bagi kaum Muslimin benar-benar keluar.
Dajjal-dajjal ini sudah ada sepeninggal Rasulullah yang mendakwakan dirinya sebagai nabi, padahal tidaj ada nabi setelah Rasulullah.
Pada zaman sahabat telah bermunculan :
1. Al Aswad Al 'Unsi di Yaman. Muncul pada masa-masa akhir akhir kehidupan Rasulullah masih hidup. Pada akhirnya ia dibunuh oleh kaum Muslimin di benteng persembunyiannya.
2. Thulaihah bin Khuwailid Al Asadi. Mengaku sebagai nabi pada masa Rasulullah masih hidup. Ia belum sempat di perangi hingga masih bertahan hidup hingga masa khalifah Anu Bakar. Setelah di perangi oleh kaum Muslimin, ia lari ke syam lalu masuk Islam. Kemudian ia ikut perang bersama kaum Muslilin dan akhirnya menibggal. Semoga dia termasuk yang menemui syahidnya.
3. Musailamah Al Kadzab pada tahun 9 Hijriyah. Dia datang kepada Rasulullah bersama jama’ahnya dan kembali ke Yamamah lalu murtad dan mengaku sebagai nabi. Maka sepeninggalan Rasul, mereka kemudian di perangi oleh Abu Bakar, dan ia mati di tangan Wahsyi bin Harb.

Pada zaman Tabi’in
1. Al Muhtar bin Abi Ubaid At Tsaqofi. Orang ini sebelumnya menganut syi’ah kemudian ia mengaku sebagai imam dengan nama Muhammad bin Hanifah. Ia mengaku bahwa Jibril menurunkan wahyu kepadanya. Kemudian dia terbunuh di Kufah.
2. Al Harits bin Sa’id Al Kadzab di Damaskus pada zaman Khalifah Abdul Malik bin Marwan, setelah beritanya sampai ke telinga Khalifah, kebenarannya langsung di lacak, lalu ia dibawa menghadap beliau. Kemudian khalifah mendatangkan para ulama untuk menasehatinya, tetapi ia menolak. Maka khalifahpun menyalibnya.
Pada zaman mutaakhir ini muncul, di India seorang laki-laki yang bernama Mirza Ghulam Ahmad Al Qodiyani. Ia mengaku mendapatkan wahyu dari langit dan mendakwakan dirinya sebagai nabi. Atau oleh para pengikutnya di katakan sebagai Mujaddid (pembaharu). Pengikutnya masyhur dengan sebutan Ahmadiyah.
Dan akhir-akhir ini kita di kejutkan dengan ajaran salamullah pengikut Lia Aminuddin yang mengaku dirinya mendapat wahyu dari Jibril.

Para Dajjal yang disebutkan di atas hanyalah sebagian saja, satu persatu akan muncul, baik berbentuk perdukunan atau pengobatan alternatif, atau apa saja yang intinya mengaku mendapat wahyu dari Allah. Dan yang terakhir ialah Al Masih Ad Dajjal Al A’war.

Keempat : Banyaknya kekacauan
Banyak nash shahih yang menunjukkan salah satu diantara tanda hari Kiamat yaitu banyaknya terjadi kekacauan, peperangan dan pembunuhan. Juga munculnya banyak fitnah di tengah-tengah kaum Muslimin yang berbentuk perpecahan, yang berakhir saling mengkafirkan dan menfasikkan, bahkan di akhiri dengan pembunuhan, merajalelanya kemaksiatan di kota-kota dan desa-desa.
Dalam sebuah riwayat rasulullah pernah bersabda :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أَلَا أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُحَدِّثُكُمْ أَحَدٌ بَعْدِي سَمِعَهُ مِنْهُ إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيَفْشُوَ الزِّنَا وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَذْهَبَ الرِّجَالُ وَتَبْقَى النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمٌ وَاحِدٌ (رواه بخارى)
Artinya :
Dari Anas bin Malik, dia berkata : apakah kalian mau kuberitahu satu hadits yang aku dengar dari Rasulullah yang tidak ada seorangpun membicarakannya setelahku ? " Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah ilmu di angkat, kebodohan muncul, perzinahan merajalela, minum minuman keras merebak luas, kaum pria sedikit dan kaum wanita banyak hingga lima puluh orang wanita hanya memiliki satu orang laki-laki yang menanggung urusan mereka." (HR. Bukhori).

Yang di maksud ilmu dalam hadits di atas adalah ilmu syar'i. yaitu ilmu yang menunjukkan manusia ke jalan yang lurus, menuju kebahagian dunia dan akhirat.

Dalam hadits lain yang di riwayatkan Imam Bukhori, menerangkan proses pengangkatan ilmu yaitu dengan mewafatkan para ulama, beliau bersabda :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا (رواه البخارى)
Artinya :
Dari Abdullah bin Amru bin Ash berkata : saya mendengar Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara langsung dengan mengambilnya dari para hamba, tetapi dengan mewafatkan para ulama. Sampai bila tidak menyisakan satu orangpun, maka manusia mengangkat pemimpin yang bodoh. Mereka di tanya, maka mereka (tokoh-tokoh yang jahil) itu memberi fatwa tanpa dasar ilmu, sehingga ia sesat lagi menyesatkan.” (HR. Bukhori).

Kesimpulan dari semua itu, maka yang tersisa kebanyakan adalah orang / pemimpin yang bodoh, akibatnya manusia mendaulatkan pemimpin orang yang kosong dari ilmu, sesat sekaligus menyesatkan orang lain. Karena apabila orang itu di tanya, dia akan menjawab tanpa dasar ilmu.


Kemudian tentang menjamurnya perzinahan dan minuman keras, di akui atau tidak kedua kemaksiatan ini sudah menyebar di seluruh pelosok negri.

Kelima : Banyak terjadi gempa bumi
Dan di antara tandanya pula adalah banyak terjadinya peperangan – peperangan, gempa bumi melanda di berbagai daerah yang menelan banyak korban, kekacauan terjadi di mana – mana, hari-hari terasa begitu cepat.

Dalam sebuah riwayat di sebutkan :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ وَهُوَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمْ الْمَالُ فَيَفِيضَ (رواه البخارى)
Dari Abu Hurairah berkata : telah bersabda Rasulullah : tidak akan terjadi hari kiamat sehingga ilmu akan di cabut, banyaknya gempa bumi, dekatnya zaman, fitnah begitu jelas, banyaknya kekacauan yaitu pembunuhan-pembunuhan sehingga kalian bergelimang dengan harta benda.” (HR. Buhkori).
Tidak akan terjadi kiamat sehingga waktu berjalan terasa cepat maksudnya ialah bahwa waktu terus berjalan tanpa ada barokah padanya. Waktu tersebut tiada terisi kecuali terisi dengan kejelekan-kejelekan.


Demikian penjelasan singkat mengenai tanda datangnya hari Kiamat yang harus kita imani. Semestinya masih banyak di antara tanda-tanda hari Kiamat yang lain. Maka setelah kita perhatikan dengan seksama, ternyata kita berada di suatu masa yang sangat dekat sekali dengan hari Kiamat.
Hendaklah kaum Muslimin memperhatikan dan mempersiapkan diri untuk menyongsongnya. Dunia adalah ladang beramal dan akhirat tempat penilaian amal. Maka orang yang beruntung adalah yang bisa menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk akhiratnya, sedangkan orang yang merugi adalah yang tidak waspada dengan akhiratnya dan selalu mengikuti hawa nafsunya.

Rasulullah pernah menggambarkan tentang keadaan Ummat ini, melalui masa – masa yang persis telah di alami ummat islam saat sekarang. Dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh imam Ahmad beliau menjelaskan :
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ (رواه أحمد)
Dari Nu’man bin Basyir berkata : kami duduk-duduk di masjid bersama rasulullah, sedangkan Basyir adalah seorang yang suka mengumpulkan hadits rasulullah, maka datanglah Abu Tsa’labah Al Khusyani maka dia berkata : wahai Basyir bin Sa’ad, apakah engkau hafal hadits rasulullah tentang umara’ (kepemimpinan) ? maka Hudzaifah berkata : aku hafal khutbahnya, Maka Abu Tsa’labah duduk bersamanya, lalu Hudzaifah berkata : Rasulullah bersabda :
1. Aakan datang pada kalian masa kenabian sesuai dengan kehendak Allah, lalu Allah mengangkatnya menurut yang Ia kehendaki,
2. Kemudian datang zaman khilafah rasyidin sesuai dengan kehendak Allah, lalu Allah mengangkatnya menurut yang Ia kehendaki,
3. Kemudian datang masa kerajaan yang turun menurun sesuai dengan kehendak Allah, lalu Allah mengangkatnya menurut yang Ia kehendaki,
4. Kemudian datang masa pemerintahan keditatoran (paksaan) sesuai dengan kehendak Allah, lalu Allah mengangkatnya menurut yang ia kehendaki.
5. Kemudian datang masa khilafah yang sesuai dengan manhaj nubuwah. Kemudian beliau diam. (HR. Ahmad).
Demikianlah rasulullah menggambarkan kondisi pemerintahan yang akan di alami kaum muslimin, dan itu semua sudah terjadi. Tinggal kita menunggu masa yang terakhir, yaitu kemunculan khilafah ‘ala manhajin Nubuwah, apakah yang di maksud adalah kemunculan Imam Mahdi yang di janjikan ? kalau memang yang dimaksud adalah benar Imam Mahdi, berarti kita benar – benar berada di akhir zaman, dan kita akan menemui Al Masih Ad Dajjal Al A’war yang merupakan fitnah terbesar bagi ummat islam, semoga kita tidak di temukan oleh Allah dengannya, wallahu a’lam.



Rabu, 14 Juli 2010




ini adalah panorama alam gunung seminung yang di atas danau ranau di ambil 10 juli 2010 bersama teman-teman BMC.